Beberapa waktu lalu salah satu kawanku pernah bercerita tentang gaya membacanya yang hanya diliputi oleh bacaan novel (fiksi), dia mengeluh bahwa yang ia baca selama ini dirasa hanya menghabiskan waktu karena berkutat bada cerita-cerita khayalan yang lebih banyak menarik daya imajinasi. Sejak jaman SMP, saya pun sangat menggemari bacaan-bacaan fiksi seperti komik, cerpen dan novel teenlet. Mulai beranjak SMA hingga kini karya Darwis Tere Liye, Hanum Salsabeila Rais&Rangga Almahendra serta Chynthia Febrina menjadi beberapa pilihan bacaanku. Bahkan saya kerap sangat antusias ketika membaca novel karangan om Darwis, Namun dengan seiring bertambahnya pemahaman kebutuhan membaca dari dosen dan kawan-kawan mahasiswa, bacaan-bacaan fiksi mulai saya kesampingkan, kebanyakan mahasiswa dituntut untuk membaca buku yang notabene adalah non fiksi seperti buku-buku pengetahuan tentang psikologi, pendidikan ataupun berita-berita aktual seputar isu-isu terkini. Tak jarang saya merasa bosan, melihat kegemaran utama saya adalah bacaan fiksi. Hingga saya mengenal beberapa novel hebat yang menjadi saran bacaan berimbang antara fiksi dan nonfiksi, novel-novel ini bersifat membangun daya fikir, mengenalkan kita akan sebuah ilmu baru namun dibangun menggunakan bahasa cerita yang baik sehingga membantu para penyuka novel untuk memahami berbagai hal yang sulit ia fahami melalui bahasa yang rumit, sebut saja novel Dunia Sophie karya Josten Gaarder.
