Pages

Kamis, 16 Januari 2014

Sepotong Daging di Pagi Buta

Silau sinar matahari pagi membuatku mengernyitkan dahi, mataku sedikit terpejam dan mulai menyadari kehadiran matahari. Aku menghempaskan tubuhku direrumputan hijau lapangan lari, sudah sepuluh putaran aku berlari sejak lepas subuh tadi, lelah, peluh membasahi wajahku, dengan pelan aku mencoba mengatur kembali nafasku yang sejak tadi terengah engah dan mulai kubuka mataku perlahan, kulihat langit biru dan berbagai gumpalan awan putih menggantung diatas sana, pagi yang indah.
Hari minggu, banyak orang yang berada disini, tempat ini memang nyaman untuk berolahraga, aku brjalan menelusuri taman kota setelah lari pagi tadi, tujuanku satu, pasar daging dekat rumahku, sejak aku kecil, ayahku bekerja disana, tapi tak pernah sekalipun aku berminat untuk masuk kedalamnya, terlalu malas untukku. Lagi lagi hanya untuk tujuan, aku melewatinya, tujuan sebenarnya adalah rumahku.
“Brakkkkkk!!!!!!”
Terdengar suara bantingan keras pintu dari rumahku, aku segera berlari menghampirinya
“Dari mana saja kamu? Pagi-pagi sudah ngeluyur !
“Aku hanya lari beberapa putaran dilapangan dekat taman kota”
“Apa? Lari kamu bilang? Apa yang kamu dapat dengan lari setiap pagi? Lihat Ayahmu, sejak dini hari tadi dia marah marah mencari anak laki-lakinya yang hobi kelayapan, lihat beliau nak! Apa kamu nggak kasihan?”
“Untuk apa ayah mencariku bu? Toh dia juga nggak pernah ada dirumah”
“Beliau nggak dirumah itu untuk kita!”
“Untuk kita apa bu? Dia bahkan…….!”
“Diam kamu!”
Ibu memotong pembicaraanku kemudian pergi meninggalkan rumah.
Aku memang jarang dirumah, rasanya malas berdiam diri ditempat yang sempit dan pengap ini. Ayahku selalu pergi kepasar daging setiap pukul 02.00 dini hari dan baru pulang sekitar pukul 08.00 pagi kemudian berangkat lagi entah kemana pukul Sembilan dan pulang selepas pukul Sembilan malam. Ibuku mengurus rumah kecil kami sepanjang hari, setidaknya dia bisa melakukan kegiatan mengomel-ngomel padaku setiap aku dirumah