Pages

Senin, 28 September 2015

Up Date Donasi Choco Bund's untuk Pendidikan Indonesia

(Sourced by penasoekarno)
Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun (Bung Karno)

Sekilas tentang Choco Bund's dan Saya

Choco Bund’s adalah sebuah home industry yang didirikan oleh Nizar Rahmawanty S.Psi pada tahun 2011, beliau saat ini menjadi guru BK di tempat PPL saya di SMK N 11 Semarang. Coklat ini sudah memiliki label halal dari MUI dan terdaftar di Dinas Kesehatan RI. Ibu Nizar mendukung penuh niat saya untuk menjadikan bisnisnya ladang amal (insyaallah) yaitu melalui gerakan kecil yang saya usung yaitu "Donasi Choco Bund's untuk Pendidikan Indonesia".
Berikut profil Choco Bund's.

Donasi Choco Bund's untuk Pendidikan Indonesia

Bismillahirrohmanirrohim...
Assalamualaikum teman-teman, perkenalkan, nama saya Isna Laili Hikmah (21), saya adalah salah satu dari ribuan anak muda yang insyaallah memiliki keinginan untuk membuat pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Saat ini peran anak muda sangat diperlukan untuk membantu mengentaskan permasalahan pendidikan yang ada, kita harus bahu membahu mencari alternatif solusi agar permasalahan tersebut dapat terselesaikan satu persatu.
Disini, saya mengajak teman-teman untuk sama-sama membantu mengentaskan permasalahan pendidikan yang ada disekitar kita melalui
"Donasi Choco Bund's untuk Pendidikan Indonesia".
Donasi ini adalah pemberian keuntungan sebesar 10% untuk Pendidikan Indonesia melalui pembelian coklat Choco Bund's.

Harapan dari gerakan kecil ini, kita mampu mengumpulkan koin koin kedalam wadah yang bernama "Tabungan Choco Bund's untuk Pendidikan Indonesia" yang nantinya akan digunakan untuk perbaikan sektor pendidikan dimulai dari lingkungan kecil di daerah Semarang dan juga daerah-daerah lain di Indonesia.
Berikut beragam coklat Choco Bund's yang bisa dipesan.

Sabtu, 19 September 2015

Bersahabat dengan Perubahan

SETIAP hal mengalami perubahan. Daun yang hijau akan menguning, lantas jatuh dari ranting. Air laut menjadi uap agar bisa menjadi awan, kemudian menjadi hujan.
Baik atau buruknya perubahan tergantung pada cara pandang seseorang. Ada sisi baik dan sisi buruk yang dapat dilihat. Pada jatuhnya daun, sisi buruk akan terlihat jika kita hanya memandang daun tersebut berubah menjadi kering. Namun sisi baiknya, daun akan lapuk dan menyuburkan tanah di sekitarnya.
Pada bidang ilmu sosial, perubahan berjalan begitu cepat bak air sungai. Demikian pula pada bidang sains. Tidak ada produk teknologi yang abadi, juga tidak ada teknologi maju yang diciptakan dengan hanya berdiam diri. Yang abadi dari sebuah teknologi adalah perubahan itu sendiri.

Senin, 17 Agustus 2015

DINAMISME PERUBAHAN

Foto : Sinar Harapan

Setiap hal selalu mengalami perubahan, dedaunan yang jatuh dari ranting yang mengalami perubahan warna dari hijau menjadi kering adalah sebuah contoh perubahan kecil, baik atau buruknya perubahan tersebut tergantung darimana cara pandang kita melihat daun tersebut. Sisi buruk akan terlihat jika kita hanya memandang daun tersebut berubah dari hijau menjadi kering, namun sisi baiknya akan terlihat jika kita menelisik lebih dalam perubahannya, yaitu ketika keringnya daun yang menjadi lapuk justru mampu menyuburkan tanah disekitarnya, itulah persepesi dan pentingnya menelisik lebih dalam akan satu hal yang kita namakan perubahan.
Diluar sana banyak orang menggembar-gemborkan tentang perubahan, orang-orang tersebut seringkali meneriakkan jargon-jargon penyemangat penanda niat merubah sebuah keadaan, tapi tidak jarang dari mereka yang masih melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Setiap orang yang berbicara tentang perubahan seharusnya memiliki cara pandang, cara berfikir dan cara bersikap yang berbeda dari kebanyakan orang biasa, dia harus selangkah kedepan lebih baik daripada kebanyakan orang disekitarnya, bayangkan jika hal tersebut dilakukan oleh semua orang, maka bukan menjadi hal yang sulit untuk melakukan perubahan yang besar.

Minggu, 09 Agustus 2015

Membumikan Bumi Khatulistiwa

Dimuat pada http://suarajakarta.co/ekstra/jurnalis-warga/membumikan-bumi-katulistiwa Senin, 10 Agustus 2015. Oleh : Isna Laili Hikmah.
Saya hidup disebuah Negeri dimana segala sesuatu yang terjadi didalamnya sangat istimewa, tidak semua orang memahami betapa beruntungnya kita hidup di Negeri ini, Negeri Indonesia. Sejak kecil saya diajarkan ayah untuk mencintai tanah air ini, beliau mengajarkan bahwa salah satu bentuk mensyukuri nikmat Tuhan adalah dengan mencintai tanah kelahiran kita.

Kemudahan yang ditawarkan Negeri ini kepada rakyatnya terlihat dari tingkat kebutuhan yang bisa terpenuhi dengan nominal rupiah yang tidak terlalu tinggi, di sebuah desa di Indonesia, kami mampu memanfaatkan sayuran dekat rumah untuk masak sehari hari tanpa harus membayar mahal untuk harga makanan seperti di kebanyakan resto di luar Negeri, di Negeri ini, bahkan dikota-kota besar padat pendudukpun profesi apa saja memiliki kesempatan untuk mendapatkan rupiah, dari mulai pebisnis besar, pekerja professional, pedagang kaki lima sampai tukang-tukang yang bekerja serabutan, kami memiliki etos kerja yang tinggi untuk menjadi Bangsa yang mandiri.

Minggu, 10 Mei 2015

Bergandeng Tangan Mengentaskan Permasalahan Anak Terdampak di Kota Semarang

Permasalahan sosial pendidikan di kota Semarang menjad PR kita bersama, fenomena anak jalanan yang bertambah setap tahunnya menimbulkan kekhawatiran akan hak-hak anak yang tidak terpenuhi. Anak memiliki hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi, 4 hak anak tersebut sudah seharusnya dimiliki setiap anak tanpa terkecuali.
Fenomena anak jalanan sebenarnya sudah berkembang lama, tetapi saat ini semakin menjadi perhatian di Kota Semarang seiring dengan meningkatnya jumlah anak jalanan dimana selain mengganggu ketertiban kota, mereka tidak seharusnya berada di jalan. Dalam Bab I Ketentuan Umum Pasal 11 Perda Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2014, Anak jalanan selanjutnya disebut Anjal adalah anak yang rentan bekerja di jalanan, anak yang bekerja di jalanan, dan/atau anak yang bekerja dan hidup di jalanan yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari.
Dalam catatan Dinas Sosial Kota Semarang, tahun 2012 anak jalanan berjumlah 270 anak, sedangkan pada tahun 2013 anak jalanan berjumlah 350 anak, dan pada tahun ini jumlahnya diperkirakan meningkat mencapai kurang lebih 400 anak. Anak-anak ini menghabiskan sebagian waktunya di jalan untuk mencari uang, mereka bekerja sebagai pengamen, penyemir sepatu, pedagang koran, bahkan menjadi pengemis, anak-anak ini selanjutnya kita sebut sebagai “anak terdampak”.
Sebagai bentuk kepedulian, BEM FT UNDIP, BEM FIP UNNES bekerjasama dengan FORKOM PSP (Forum Komunikasi Peduli Sosial Pendidikan) Semarang mengadakan audiensi dengan Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan kota Semarang (09052015), 

Jumat, 24 April 2015

School for Nation Leader #1

Kesempata emas datang ketika pertama kali melihat pengumuman peserta LOLOS School for Nation Leader 1 pada 8 April 2015. Belum banyak yang tahu kegiatan tersebut, termasuk saya kala itu. School for Nation Leader 1 di hadiri oleh 50 mahasiswa dari 40 Universitas terpilih dari seluruh Indonesia. Disini saya akan berbagi pengalaman menarik kepada kawan-kawan mengenai apa yang telah saya dapatkan selama satu minggu pelatihan kepemimpinan School for Nation Leader Bogor 14-20 April 2015.
#ke (tidak) ramahan KRL
Saya awali dari keberangkatan saya dari Semarang, meniti perjalanan panjang 9 jam menuju kota Bogor, sebuah kota yang sejuk dan memiliki budaya keramahan luar biasa pada warganya. Hal yang saya jumpai pertama kali adalah KRL, sebuah kereta listrik berkecepatan standar yang beroperasi dari Jakarta hingga Bogor. Sebagai anak pegunungan, hal ini menjadi menarik karena sistem  yang digunakan kereta ini sudah layak disebut modern, bayangkan, biaya yang kita bayarkan sangatlah murah, hanya dengan memiliki kartu seharga 15 ribu, kita bebas bertransportasi menggunakan KRL Jakarta-Bogor-Jakarta sesuka hati, keunikan lain yang saya temui adalah jika kita menukarkan kartu KRL yang kita beli saat awal perjalanan, maka petugas loket akan mengembalikan rupiah senilai 10 ribu, jika dihitung ulang kita hanya mengeluarkan uang senilai 5 ribu rupiah, sangat murah.

Kamis, 16 April 2015

AKNIUS (AKTIVIS JENIUS)

Bermimpilah, maka impian akan membawamu pada kenyataan indah.

Ada satu hal yang sampai saat ini kerap kali membawa saya pada kenyataan bahwa impian adalah awal dari kita memperoleh hal-hal nyata tersebut. Sebagai mahasiswa tentunya saya mendambakan menjadi orang yang berprestasi baik dalam bidang soft skill maupun hard skill. Aktif dalam kegiatan organisasi saja bagi saya tidak cukup, karena pengetahuan dasar keilmuan kita diperoleh dari bangku kuliah, itulah yang menyadarkan saya untuk menjadi mahasiswa berprestasi.
Saya teringat ketika masih duduk di semester1 2 setengah tahun yang lalu, seorang motivator berbicara keras dalam sebuah ruangan di gedung A1 menyuarakan tentang pentingnya menyeimbangkan aktifitas organisasi dengan perkuliahan yang berjalan. Bukan hal yang mudah menjadi aktifis yang jenius, segala hal yang berkaitan dengan time manajemen, kekuatan fisik, kecerdasan mengatur agenda dan tugas, serta siap sedia mengadakan pertemuan rutin organisasi.

Minggu, 01 Maret 2015

Keuntungan Membaca Novel


Beberapa waktu lalu salah satu kawanku pernah bercerita tentang gaya membacanya yang hanya diliputi oleh bacaan novel (fiksi), dia mengeluh bahwa yang ia baca selama ini dirasa hanya menghabiskan waktu karena berkutat bada cerita-cerita khayalan yang lebih banyak menarik daya imajinasi. Sejak jaman SMP, saya pun sangat menggemari bacaan-bacaan fiksi seperti komik, cerpen dan novel teenlet. Mulai beranjak SMA hingga kini karya Darwis Tere Liye, Hanum Salsabeila Rais&Rangga Almahendra serta Chynthia Febrina menjadi beberapa pilihan bacaanku. Bahkan saya kerap sangat antusias ketika membaca novel karangan om Darwis, Namun dengan seiring bertambahnya pemahaman kebutuhan membaca dari dosen dan kawan-kawan mahasiswa, bacaan-bacaan fiksi mulai saya kesampingkan, kebanyakan mahasiswa dituntut untuk membaca buku yang notabene adalah non fiksi seperti buku-buku pengetahuan tentang psikologi, pendidikan ataupun berita-berita aktual seputar isu-isu terkini. Tak jarang saya merasa bosan, melihat kegemaran utama saya adalah bacaan fiksi. Hingga saya mengenal beberapa novel hebat yang menjadi saran bacaan berimbang antara fiksi dan nonfiksi, novel-novel ini bersifat membangun daya fikir, mengenalkan kita akan sebuah ilmu baru namun dibangun menggunakan bahasa cerita yang baik sehingga membantu para penyuka novel untuk memahami berbagai hal yang sulit ia fahami melalui bahasa yang rumit, sebut saja novel Dunia Sophie karya Josten Gaarder.