Silau sinar matahari pagi membuatku mengernyitkan dahi, mataku sedikit terpejam dan mulai menyadari kehadiran matahari. Aku menghempaskan tubuhku direrumputan hijau lapangan lari, sudah sepuluh putaran aku berlari sejak lepas subuh tadi, lelah, peluh membasahi wajahku, dengan pelan aku mencoba mengatur kembali nafasku yang sejak tadi terengah engah dan mulai kubuka mataku perlahan, kulihat langit biru dan berbagai gumpalan awan putih menggantung diatas sana, pagi yang indah.
Hari minggu, banyak orang yang berada disini, tempat ini memang nyaman untuk berolahraga, aku brjalan menelusuri taman kota setelah lari pagi tadi, tujuanku satu, pasar daging dekat rumahku, sejak aku kecil, ayahku bekerja disana, tapi tak pernah sekalipun aku berminat untuk masuk kedalamnya, terlalu malas untukku. Lagi lagi hanya untuk tujuan, aku melewatinya, tujuan sebenarnya adalah rumahku.
“Brakkkkkk!!!!!!”
Terdengar suara bantingan keras pintu dari rumahku, aku segera berlari menghampirinya
“Dari mana saja kamu? Pagi-pagi sudah ngeluyur !
“Aku hanya lari beberapa putaran dilapangan dekat taman kota”
“Apa? Lari kamu bilang? Apa yang kamu dapat dengan lari setiap pagi? Lihat Ayahmu, sejak dini hari tadi dia marah marah mencari anak laki-lakinya yang hobi kelayapan, lihat beliau nak! Apa kamu nggak kasihan?”
“Untuk apa ayah mencariku bu? Toh dia juga nggak pernah ada dirumah”
“Beliau nggak dirumah itu untuk kita!”
“Untuk kita apa bu? Dia bahkan…….!”
“Diam kamu!”
Ibu memotong pembicaraanku kemudian pergi meninggalkan rumah.
Aku memang jarang dirumah, rasanya malas berdiam diri ditempat yang sempit dan pengap ini. Ayahku selalu pergi kepasar daging setiap pukul 02.00 dini hari dan baru pulang sekitar pukul 08.00 pagi kemudian berangkat lagi entah kemana pukul Sembilan dan pulang selepas pukul Sembilan malam. Ibuku mengurus rumah kecil kami sepanjang hari, setidaknya dia bisa melakukan kegiatan mengomel-ngomel padaku setiap aku dirumah
Sebenarnya aku adalah salah satu anggota pecinta alam di SMAku yang paling aktif, orang tuaku tak pernah tahu kegiatan diluar sekolahku, yang mereka tahu aku hanya menghabiskan waktu diluar untuk bersenang senang, tidak ada keterbukaan diantara kami, setelah kejadian tadi pagi, aku memutuskan untuk berada dirumah seharian ini, hari ini juga, aku mendapati ibuku menangis, entahlah ?
*****
“Pak, untuk apa selama ini bapak tetap bekerja keras mengumpulkan uang? Azzam juga semakin hari semakin keras kepala, sudahlah pak.”
Seorang bapak dengan wajah keriput berusia 60 tahuan terbatuk,
“Bu, dia anak kita satu satunya, bapak tidak ingin nasibnya sama seperti bapak yang hanya bisa berjualan daging milik orang lain setiap pagi dan bekerja serabutan sepanjang hari, bapak ingin dia benar-benar menjadi orang.”
Terdengar suara denting jam dinding dikamar sempit itu, jarumnya menunjukkan pukul setengah dua pagi, hening sekejap.
“Tapi pak, lihat kelakuan anakmu, bahkan dia tidak pernah sekalipun membantumu dipasar, yang dia lakukan hanya bersenang senang, sekolahnya juga hanya dia anggap main main, apa masih perlu bapak mengumpulkan uang untuk kuliahnya?”
Sang ibu mulai meneteskan air mata
“Azzam harus kuliah bu, dia tidak boleh tidak memiliki masa depan”
“Tapi bagaimana dengan keadaan bapak? Sakit bapak harus segera diobati”
Kali ini sang ibu benar benar menangis.
“Bu, sejak dulu bapak selaluu mengumpulkan uang untuk sekolah Azzam, SD, SMP sampai sekarang SMA, Bapak senang melihat anak kita sekolah bu, biaya kuliah itu tidak murah, jadi Bapak harus tetap bekerja, Ibu nasehati Azzam dengan baik, bapak yakin dia pasti sadar.”
Terdengar suara batuk mengakhiri pembicaraan bapak tua itu, si Ibu hanya terdiam.
“Bapak berangkat dulu ya bu,”
“Hati-hati pak.”
*****
Cahaya pagi kembali menerpa wajahku melalui jendela kecil kamar ini, aku masih malas membuka mata, tapi hari ini senin, sekolah telah menungguku. Seperti biasa, rumah selalu sepi, setelah mandi dan berpakaian, tidak ada rutinitasl cium tangan untuk berpamitan, sarapan yang ditawarkan Ibukupun sama sekali tak kusentuh.
Kelas mulai ramai, tidak ada upacara bendera hari ini, semua anak bersorak riang mendengar berita tersebut, itu artinya ada banyak kesempatan untuk membolos pagi ini. Aku juga tidak berminat mengikuti kelas, hanya ada satu tujuan favoritku disekolah ini, markas pecinta alam, aku yang memegang kuncinya.
Aku berdiam diri di belakang rak tempat perkap mendaki diletakkan disana, walaupun sama sempitnya seperti rumahku, tapi setidaknya tempat ini jauh lebih nyaman, aku mencoba mencari posisi duduk dan segera memejamkan mata, tak peduli guru dikelas sana pasti memberikanku keterangan alfa untukku disini tenang.
“Pak? Ngapain Bapak disini!”
Petir menyambar ditengah guyuran hujan, mengagetkan seorang laki-laki tua berusia 60 tahunan yang sedang berjalan dilorong gang pasar daging.
……. Bersambung …..
1:24 16/1/14
Tulisan ori by isna elha
Tulisan ori by isna elha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar