Kesempata
emas datang ketika pertama kali melihat pengumuman peserta LOLOS School for
Nation Leader 1 pada 8 April 2015. Belum banyak yang tahu kegiatan tersebut,
termasuk saya kala itu. School for Nation Leader 1 di hadiri oleh 50 mahasiswa dari 40 Universitas terpilih dari seluruh Indonesia. Disini saya akan berbagi pengalaman menarik kepada kawan-kawan
mengenai apa yang telah saya dapatkan selama satu minggu pelatihan kepemimpinan
School for Nation Leader Bogor 14-20 April 2015.
#ke
(tidak) ramahan KRL
Saya
awali dari keberangkatan saya dari Semarang, meniti perjalanan panjang 9 jam menuju
kota Bogor, sebuah kota yang sejuk dan memiliki budaya keramahan luar biasa
pada warganya. Hal yang saya jumpai pertama kali adalah KRL, sebuah kereta
listrik berkecepatan standar yang beroperasi dari Jakarta hingga Bogor. Sebagai
anak pegunungan, hal ini menjadi menarik karena sistem yang digunakan kereta ini sudah layak disebut
modern, bayangkan, biaya yang kita bayarkan sangatlah murah, hanya dengan
memiliki kartu seharga 15 ribu, kita bebas bertransportasi menggunakan KRL
Jakarta-Bogor-Jakarta sesuka hati, keunikan lain yang saya temui adalah jika
kita menukarkan kartu KRL yang kita beli saat awal perjalanan, maka petugas
loket akan mengembalikan rupiah senilai 10 ribu, jika dihitung ulang kita hanya
mengeluarkan uang senilai 5 ribu rupiah, sangat murah.
Mungkin
bagi sebagian orang yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, KRL sudah menjadi bagian
dari hidup, karena sebagian besar perjalanan mereka di lalui dengan kereta ini.
Berbeda dengan kami yang tinggal jauh dari transportasi nyaman. Lets imagine! Jika KRL ini diterapkan
diseluruh kota besar di Indonesia, saya yakin, transportasi umum akan menjadi
prioritas utama perjalanan warga Indonesia.
Salah
satu tolak ukur penghematan energi pada suatu Negara adalah tingginya
penggunaan transportasi umum dari pada kendaraan pribadi, Negara-negara besar
seperti Jepang dan Korea Selatan sudah membuktikannya. Untuk membentuk
kebiasaan warga menggunakan transportasi umum, harus ada perbaikan diberbagai
sektor terutama untuk menunjang kenyamanan, keamanan dan kemurahan transportasi
tersebut.
Saya
lagi-lagi membayangkan, jika di kota Semarang tempat saya berdomisili sekarang
terdapat satu saja KRL Semarang-Purwokerto, saya yakin mahasiswa mbolang* seperti saya akan sangat nyaman
bepergian kemana-mana demi melihat langsung kondisi kota-kota yang ingin saya
datangi. Saat ini tersedia transportasi kereta non listrik disetiap kota dan
kondisi yang saya dapatkan dikota Semarang adalah biayanya yang tidak terlalu
bersahabat. Saya berikan contoh, untuk perjalanan Semarang-Tegal dengan jarak
sekitar 200 km saja kami harus merogoh kocek sebesar 50 ribu satu kali
perjalanan, biaya yang mahal untuk ukuran kantong mahasiswa.
Beberapa
hal yang saya sayangkan adalah, suasana di dalam KRL yang sangat dingin, bukan
dingin karena AC yang berhembus, namun dingin yang ditimbulkan oleh para
penumpang KRL itu sendiri. Ketidak ramahan warga ibu kota sangat terlihat
disini, dalam kondisi duduk atau berdiri di dalam kereta, tidak terjadi proses
saling sapa atau bahkan untuk sekedar senyum, beberapa malah sibuk dengan gadget ditangan masing-masing, miris, melihat
sejarah Bangsa Timur yang terkenal akan keramah tamahannya. Kiranya kita perlu
menuliskan pamphlet 5S (senyum, sapa, salam, sopan, santun) yang kita tempel di
jendela dan pintu kereta.
Tak
kecewa, setelah melihat ketidak ramahan di dalam KRL, sesampainya saya di
stasiun Bogor, saya disambut ramah, amat sangat ramah oleh petugas stasiun
Bogor, tidak selesai sampai disitu saya pun disambut amat sangat ramah oleh
panitia School for Nation Leader di pos penjemputan di area Stasiun Bogor,
seketika itu saya sadar bahwa masih ada keramahan-keramahan yang diciptakan
oleh Bangsa Timur seperti yang dibanggakann Negeri kami, mereka adalah
orang-orang yang memiliki fikiran positif dan optimis dalam menatap Dunia, kami
akan merawat keramahan-keramahan tersebut, untuk menciptakan suasana optimis di
dalam transportasi nyaman seperti KRL hingga ke dalam transportasi lain yang
harganya membuat kami enggan tersenyum, tidak, kami akan tetap tersenyum dan optimis,
pasti ada hari cerah menanti di depan mata.
*mbolang
adalah istilah yang saya ambil dari kata bolang yang berarti bepergian
jalan-jalan dengan imbuhan m di depan kata seperti kebanyakan orang jawa
berbicara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar