Pagiku dulu dan kini,
tak ada bedanya. Hanya ruang dan waktu yang membuatnya jadi sedikit berbeda.
Pagiku kini pun kuarungi dengn gulungan cerita demi cerita yang setiap saat
membentuk gugusan baru. Pagiku pun tak ada capainya memotret kisah rindu dan cinta
yang kubangun dan kujaga untuk dirimu.
Siapa
yang memulai kisah itu? Yang pasti, akulah orangnya. Tapi aku pun tak pernah
memaksa memulainya, semua berjalan tanpa rencana. Setiap kubuka jendela dan
kulihat matahari di pagi hari, selalu ada getarmu yang hinggap. Hingga rasanya
tak mungkin aku mengakhiri kisah itu. Hatiku telah terenggut habis ke
akar-akarnya.
Aku tak berdaya untuk menghapus
apapun tentangmu. Aku tetap dan akan selalu meikmati semua yang ada padamu.
Mungkin warasku telah menemui titik
ketiadaannya. Tapi biarkan saja, semua ini tak akan mengubah apapun. Sebaris
waktu bersamamu menjadi pahatan terindah dalam perjalanan hidupku. Dan itu
membuatmu menjadi bidadariku, seutuh-utuhnya, segala-galanya.
Aku terlanjur sakau akanmu.
Sesakau inginku untuk mengakhiri kisah ini dengan pengakhiran yang
membahagiakan. Itulah mimpiku. Pilihan tetaplah sebuah pilihan. Seperti aku
juga ingin memilih pengakhiran yang membahagiakan untuk menjadi titik muara
dari sesakauanku. Biarlah sakau ini terus menguntit di jejak hari-hariku,
menggeser tiap inci logika nalarku. Aku rela dan akan tetap menjaganya seperti
janji pepohonan yang setia selamanya meneduhi alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar